Kamis, 28 November 2013

PEMILU 2014

Pemilihan Presiden Tahun 2014 akan dilakukan dua bulan setelah terselenggarakannya Pemilu Legislatif pada tanggal 9 April 2014. Komisi Pemilihan Umum (KPU) saat ini telah menyelesaikan berbagai jadwal, program dan tahapan Pemilu 2014.
"Peraturan KPU tentang jadwal, program dan tahapan Pemilu 2014 sudah rampung. Dan, tinggal kita tetapkan pada tanggal 25 Juni mendatang," ucap Anggota KPU Ferry Kurnia kepada "PRLM", di Jakarta Senin (18/6/12).
Menurut Ferry, pada 25 Juni nanti pihaknya juga akan mengundang dan meminta masukan dari LSM dan media berkenaan dengan aktifitas Pemilu ke depan yang lebih berkualitas. "Kita memang menginginkan adanya azas keterbukaan dalam Pemilu mendatang," ucapnya.
Ia menuturkan, sistem pemilihan pada Pemilu 2014 nanti akan berbeda dengan Pemilu 2009 lalu. 2014 nanti daftar pemilih tetap (DPT) akan melakukan pencoblosan, sedangkan 2009 lalu dilakukan dengan cara dicontreng.
Menurut dia, pagu anggaran sebesar 8 triliun yang ditetapkan untuk Pemilu Legislatif nanti akan digunakan dalam empat pos. Keempat pos tersebut yakni untuk penyelanggaran pemilu, pembentukan Badan Adhoc, Monitoring, dan aktifitas kegiatan di lapangan. Ia menambahkan, pembentukan dana adhoc diperkirakan akan menyedot anggaran paling besar.
Ia mengungkapkan,ada tiga tahapan yang akan diselesaikan KPU untuk menyongsong Pemilu 2014. Diantaranya yakni persiapan konteks proses perencanaan aktifitas yang dilakukan untuk menyusun anggaran, bimbingan teknis hingga program tentang koalisi partai.
Sebelumnya, KPU menetapkan tanggal 9 April 2014 sebagai hari pencoblosan pemilihan umum legislatif. Penetapan hari tersebut dilakukan berdasarkan amanat UU No. 8 Tahun 2012 yang menyatakan tahapan penyelenggaran Pemilu dilaksanakan paling lambat 22 bulan sebelum hari pemungutan suara.
Ketua KPU Husni Kamil Manik mengatakan, langkah yang dilakukan KPU dalam melaksanakan tahapan penyelenggaraan pemilu sudah lebih cepat dibandingkan dari batas waktu yang ditentukan oleh regulasi. Diharapkan, kualitas Pemilu 2014 nantinya akan lebih dipercaya dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya.
"Kalau dari segi persiapannya, Pemilu Legislatif yang lalu memang lebih mepet dibandingkan yang sekarang. Kita saat ini masih memiliki waktu dua bulan untuk membahas perencanaan program dan anggaran Pemilu Legislatif," ucapnya seusai launching di Gedung KPU, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, selain masih memiliki waktu untuk perencanaan program, pihaknya pun masih terus melakukan penyusunan peraturan pelaksanaan penyelenggaraan Pemilu. "Tantangan kita tersendiri kedepannya masih ada pertemuan dengan pemerintah dan DPR membahas regulasi penyelenggaraan Pemilu 2014," tuturnya.

sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/192844

DAN INILAH PARTAI YANG IKUT DALAM PEMILU 2014

1. Partai Nasional Demokrat [Nasdem]
2. Partai Kebangkitan Bangsa [PKB]
3. Partai Keadilan Sejahtera [PKS]
4. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan [PDIP]
5. Partai Golongan Karya [Golkar]
6. Partai Gerakan Indonesia Raya [Gerindra]
7. Partai Demokrat [PD]
8. Partai Amanat Nasional [PAN]
9. Partai Persatuan Pembangunan [PPP]
10. Partai Hati Nurani Rakyat [Hanura]
11. Partai Damai Aceh [PDA]
12. Partai Nasional Aceh [PNA]
13. Partai Aceh [PA]
14. Partai Bulan Bintang [PBB]
15. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia [PKPI]
Gambar-Partai-Pemilu-2014

3-Gambar-Partai-Pemilu-2014-Dari-Aceh

Sumber : http://www.blog.binder724studio.com/?p=47553

Rabu, 20 November 2013

Membahas acara - acara televisi di indonesia


A .Kelebihan Dan Kekurangan Televisi
Kelebihan Media Televisi:
- Jangakauan sangat luas
- Penayangan seketika
- Gabungan gambar, suara dan warna
- Efek demonstrasi
- Penentuan waktu pentayangan mudah
- Kontrol Mudah

Kekurangan Media Televisi :
- Cepat lewat, frekuensi tinggi
- Relatif mahal
- Tidak ada segmentasi pirsawan
- Keterangan dan pesan harus pendek
- Produksi materi lama dan mahal

B. Peranan Orang Tua

Keluarga yang ideal (lengkap) maka ada dua individu yang memainkan peranan penting yaitu peran ayah dan peran ibu, secara umum peran kedua individu tersebut adalah :

a. Peran seorang ibu adalah :

1) memenuhi kebutuhan biologis dan fisik

2) merawat dan mengurus keluarga dengan sabar, mesra dan konsisten

3) mendidik, mengatur dan mengendalikan anak

4) menjadi contoh dan teladan bagi anak

b. Peran seorang ayah adalah :

1) ayah sebagai pencari nafkah

2) ayah sebagai suami yang penuh pengertian dan memberi rasa aman

3) ayah berpartisipasi dalam pendidikan anak

4) ayah sebagai pelindung atau tokoh yang tegas, bijaksana, mengasihi keluarga.

Dari penjabaran mengenai peranan orang tua diatas, dapat disimpulkan betapa besarnya peranan orang tua dalam memenuhi kebutuhan anaknya, mendidik, mengendalikan anaknya serta menjadi teladan bagi anaknya. Orang tua memiliki tanggung jawab penuh terhadap perkembangan anaknya dan segala aktivitas anaknya serta harus bisa membimbing, mengawasi dan mengarahkan untuk melakukan kebaikan sesuai dengan kepercayaan (agama) yang dianutnya dan norma yang berlaku dimasyarakat.

C. Dampak Televisi Terhadap Anak

Televisi merupakan media massa elektronik yang sangat digemari hampir disegala jenjang usia, baik oleh anak-anak remaja maupun orang dewasa sekalipun. Menonton acara televisi sebenarnya sangat baik bagi anak-anak, remaja dan orang dewasa, dengan catatan apabila menonton televisi tersebut tidak berlebihan, acara yang ditonton sesuai dengan usia, dan bagi anak-anak adanya kontrol/pengawasan dari orang tua. Namun kenyataan yang terjadi, banyak dari anak-anak menonton acara yang seharusnya belum pantas untuk ia saksikan serta kebiasaan menonton televisi telah menjadi kebiasaan yang berlebihan tanpa diikuti dengan sikap yang kreatif, bahkan bisa menyebabkan anak bersikap pasif.

Bagi anak-anak, kebiasaan menonton televisi bisa mengakibatkan menurunnya minat baca anak-anak terhadap buku, serta masih banyak lagi dampak negatif lainnya jika dibandingkan dampak positifnya yang hanya sedikit sekali. Anak-anak cenderung lebih senang berlama-lama didepan televisi dibandingkan harus belajar, atau membaca buku.

Jika kita melihat acara-acara yang disajikan oleh stasiun televisi, banyak acara yang disajikan tidak mendidik malahan bisa dakatakan berbahaya bagi anak-anak untuk di tonton. Kebanyakan dari acara televisi memutar acara yang berbau kekerasan, adegan pacaran yang mestinya belum pantas untuk mereka tonton, tidak hormat terhadap orang tua, gaya hidup yang hura-hura (mementingkan duniawi saja) dan masih banyak lagi deretan dampak negatif yang akan menggrogoti anak-anak yang masih belum mengerti dan mengetahui apa-apa. Mereka hanya tahu bahwa acara televisi itu bagus, mereka merasa senang dan terhibur serta merasa penasaran untuk terus mengikuti acara demi acara selanjutnya. Sudah sepatutnya orang tua menyadari hal ini, mengingat betapa besarnya akibat dari menonton televisi yang berlebihan.

Dibawah ini dicantumkan data mengenai fakta tentang pertelevisian Indonesia :

tahun 2002 jam tonton televisi anak-anak 30-35 jam/hari atau 1.560 – 1.820 jam/tahun, sedangkan jam belajar SD umumnya kurang dari 1.000jam/tahun.85% acara televisi tidak aman untuk anak, karena banyak mengandung adegan kekerasan, seks dan mistis yang berlebihan dan terbuka.saat ini ada 800 judul acara anak, dengan 300 kali tayang selama 170jam/minggu padahal satu minggu hanya ada 24 jam X 7 hari = 168 jam.40 % waktu tayang diisi iklan yang jumblahnya 1.200 iklan/minggu, jauh diatas rata-rata dunia 561 iklan/minggu.

Berdasarkan perjabaran diatas, bisa dibayangkan apabila anak-anak yang merupakan aset-aset bangsa yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini serta yang akan memajukan bangsa ini, sejak kecil telah terbiasa dengan hal yang tidak bermanfaat, maka negara ini yang sudah tertinggal dan terpuruk ini akan semakin terpuruk dan tertinggal dan akhirnya akan menjadi negara yang akan di lecehkan oleh negara lain. Inilah fakta yang bukan hanya untuk kita perhatikan tetapi perlu dilakukan tindakan nyata untuk mengantisipasinya. Yang pastinya diperlukan satu-kesatuan tekat dalam setiap diri orang tua dan anggota masyarakat untuk bisa mengatisipasi dampak yang akan terjadi serta bisa menjadi kontrol bagi pihak penyiar televisi terhadap acara-acara yang ditayangkan oleh setiap stasiun televisi.

Jika kita kaji lebih jauh, dampak negatif dari menonton televisi berlebihan yaitu:

Anak 0–4 tahun, menggangu pertumbuhan otak, menghambat pertumbuhan berbicara, kemampuan herbal membaca maupun maupun memahaminya, menghambat anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan.Anak 5-10 tahun, meningkatkan agresivitas dan tindak kekerasan, tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalanBerprilaku konsumtif karena rayuan iklanMengurangi kreatifitas, kurang bermain dan bersosialisasi, menjadi manusia individualis dan semdiriTelevisi menjadi pelarian dari setiap keborosan yang dialami, seolah tidak ada pilihan lainMeningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan) karena kurang berkreativitas dan berolahragaMerenggangkan hubungan antar anggota keluarga, waktu berkumpul dan bercengkrama dengan anggota keluarga tergantikan dengan nonton TV, yang cendrung berdiam diri karena asik dengan jalan pikiran masing-masingMatang secara seksual lebih cepat asupan gizi yang bagus adegan seks yang sering dilihat menjadikan anak lebih cepat matang secara seksual, ditamah rasa ingin tahu pada anak dan keinginan untuk mencoba adegan di TV semakin menjerumuskan anak.

Mungkin kita beranggapan dampak televisi tidaklah begitu teralu besar bagi anak-anak, malahan orang tua hanya melarang anak-anaknya untuk tidak menonton film yang berbau pornoaksi, dan membiarkan mereka menonton film yang biasa-biasa saja atau memang film anak-anak, namun sebenarnya film anak-anak yang di tonton oleh anak-anak pun tidak menutup kemungkinan bisa berdampak negatif bagi anak itu sendiri. Sekarang seteleh mengetahui begitu besar dampak televisi bagi anak sudah sepatutunya setiap orang tua membatasi waktu menonton dan mengawasi serta menseleksi acara-acara apa saja yang pantas dan tidak pantas untuk di tonton oleh anak-anak.

D. Peranan Orang Tua Dalam Mengatasi Dampak Negatif Acara Televisi

Setiap orang tua memiliki tanggungjawab untuk selalu mengawasi anaknya dan memperhatikan perkembangannya, oeh sebab itu hal-hal yang sekecil apapun harus bisa diantisipasi oleh setiap orang tua mengenai dampak positif atau negatif yang akan ditimbulkan oleh hal yang bersangkutan. Begitu juga mengenai hal televisi ini, yang sudah nyata dampak negatifnya, sudah sepatutnya setiap orang tua mempersiapkan senjata untuk mengantisipasinya.

Dari begitu banyak dampak yangdiakibatkan oleh tontonan televisi, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan oleh setiap orang tua, yaitu:

Pilih acara yang sesuai dengan usia anak

Jangan biarkan anak-anak menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya, walaupun ada acara yang memang untuk anak-anak, perhatikan dan analisa apakah sesuai dengan anak-anak (tidak ada unsur kekerasan, atau hal lainnya yang tidak sesuai dengan usia mereka).

Dampingi anak memonton TV

Tujuannya adalah agar acara televisi yang mereka tonton selalu terkontrol dan orangtua bisa memperhatikan apakah acara tersebut masih layak atau tidak untuk di tonton.

Letakan TV di ruang tengah, hindari menyediakan TV dikamar anak.

Dengan meyimpan TV diruang tengah, akan mempermudah orang tua dalam mengontrol tontonan anak-anaknya, serta bisa mengantisipasi hal yang tidak orang tua inginkan, karena kecendrungan rasa ingin tahu anak-anak sangat tinggi.

Tanyakan acara favorit mereka dan buntu memahami pantas tidaknya acara tersebut untuk mereka diskusikan setelah menonton, ajak mereka menilai karakter dalam acara tersebut secara bijaksana dan positifAcara yang bisa dilakukan misalnya hiking, tamasya, siraturahim tempat sanak keluarg dan hal lainnya yang bisa membangun jiwa sosialnya.Perbanyak membaca buku, letakkan buku ditempat yang mudah dijangkau anak, ajak anak ke toko dan perpustakaanAjak anak keluar rumah untuk menikmati alam dan lingkungan, bersosialisasi secara positif dengan orang lain.Perbanyak mendengarkan radio, memutar kaset atau mendengarkan musik sebagai mengganti menonton TV

Hal ini sangat penting untuk dilakukan karena dengan mendenganrkan radio, anak akan terlatih kemampuan mendengarnya, jika kita bandingkan denga menonton televisi hanya merangsang anak untuk mengikuti alur cerita tampa menganalisis lebih lanjut dari apa yang dialihat dan dengar. Begitu juga dengan mendengarkan musik lebih baik dilakukan bila dibandingkan dengan menonton televisi karena bisa melatih perkembangan imajinasi anak.

E. Dampak Positif Televisi

- Banyak mengetahui berita-berita yang ada dalam negri maupun luar negri

- Yang tadinya tidak tahu tentang sumber-sumber berita berasal , menjadi tahu

- Menambah kreatifitas dan intelek seseorang

- Menambah pembelajaran secara tidak langsung

- Dapat membantu antar sesama ketika kita melihat sebuah berita terdapat bencana

Sumber :  http://naypsikosa.wordpress.com/2011/05/08/kelebihan-dan-kekurangan-media-televisi/

Senin, 11 November 2013

Permasalahan Penduduk Di Jakarta

Bicara mengenai permasalahan perkotaan di Indonesia, kita berpikir tidak bisa lepas dari Jakarta. Jakarta adalah contoh yang sangat pas untuk membahas permasalahan dalam kota. Khususnya masalah kepadatan penduduk. Beberapa waktu yang lalu banyak isu yang menyebutkan bahwa ada rencana pemindahan ibu kota Republik Indonesia. Kenapa? Karena Ibu kota yang sekarang dinilai tidak layak lagi untuk dijadikan sebagai ibu kota. Ada alasan yang begitu rumit untuk dijelaskan bahkan, aparat yang katanya pemimpin kota dan negeri ini pun kelimpungan ketika ditanyakan mengenai kota yang amat padat ini. Tidak hanya mengenai pemindahan kota Jakarta, tetapi yang lebih mengerikan dari pada itu adalah ada wacana yang disebutkan para ahli bahwa 2080 ada kemungkinan Jakarta akan tenggelam.
Menurut hasil sensus nasional terakhir, ibu kota dihuni oleh hampir 9,6 juta orang melebihi proyeksi penduduk sebesar 9,2 juta untuk tahun 2025. Populasi kota ini adalah 4 persen dari total penduduk negara, 237.600.000 orang.
Dengan angka-angka ini, kita dapat melihat bahwa populasi kota telah tumbuh 4,4 persen selama 10 tahun terakhir, naik dari 8,3 juta pada tahun 2000. Apa yang dikatakan angka-angka ini? Ibukota telah kelebihan penduduk.Pada tingkat ini, Jakarta memiliki kepadatan penduduk 14.476 orang per kilometer persegi. Sebagai akibatnya, para pembuat kebijakan kota perlu merevisi banyak target pembangunan kota ini, termasuk penciptaan lapangan kerja, ketahanan pangan, perumahan, kesehatan dan infrastruktur, sebagai peredam masalah pada saat kota sudah mengalami kepadatan penduduk yang sangat menghawatirkan.
PENYEBAB :
Jumlah penduduk ditentukan oleh : 1. Angka kelahiran 2. Angka kematian 3. Perpindahan penduduk, yang meliputi :a. Urbanisasi, b. Reurbanisasi, c. Emigrasi, d. Imigrasi, yaitu e. Remigrasi, f. Transmigrasi. Yang menjadi focus penyebab kepadatan penduduk Jakarta saat ini adalah adalah Urbanisasi. Dimana, fakta berbicara bahwa penduduk kota Jakarta mayoritas adalah para urban. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta 2010 mengatakan bahwa jumlah penduduk Jakarta bertambah sebanyak 134.234 jiwa per tahun. Jika tidak ada program dari pemerintah untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, maka pada 2020 Jakarta akan menjadi lautan manusia. Kenapa mereka berurbanisasi ke Jakarta?
Ada banyak faktor yang memicu urbanisasi misalnya; modernisasi teknologi, rakyat pedesaan selalu dibombardir dengan kehidupan serba wah yang ada di kota besar sehingga semakin mendorong mereka meninggalkan kampungnya. Pendidikan. Faktor pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap melunjaknya jumlah penduduk. Universitas terbaik di Indonesia baik negeri maupun swasta ada perkotaan termasuk di Jakarta. Lapangan Kerja. Jakarta sebagai kota besar dan berpenduduk banyak tentunya sangat menjanjikan untuk orang-orang kecil yang berniat untuk mencari sesuap nasi dikota ini mulai dari pedagang kaki lima (PKL), pedagang asongan, tukang ojek, tukang sngat menjanjikan untuk hidup semir sepatu, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, office boy, satpam, sopir, kondektur dll yang penting bisa bekerja tanpa mempunyai keahlian khusus.
Kota-kota besar terutama Jakarta adalah sasaran dari pencari kerja dari pedesaan dimana dengan adanya modernisasi teknologi, rakyat pedesaan selalu dibombardir dengan kehidupan serba wah yang ada di kota besar sehingga semakin mendorong mereka meninggalkan kampungnya. Secara statistik, pada tahun 1961 Jakarta berpenduduk 2,9 juta jiwa dan melonjak menjadi 4,55 juta jiwa 10 tahun kemudian. Pada tahun 1980 bertambah menjadi 6,50 juta jiwa dan melonjak lagi menjadi 8,22 juta jiwa pada tahun 1990. Yang menarik, dalam 10 tahun antara 1990-2000 lalu, penduduk Jakarta hanya bertambah 125.373 jiwa sehingga menjadi 8,38 juta jiwa. Data tahun 2007 menyebutkan Jakarta memiliki jumlah penduduk 8,6 juta jiwa, tetapi diperkirakan rata-rata penduduk yang pergi ke Jakarta di siang hari adalah 6 hingga 7 juta orang atau hampir mendekati jumlah total penduduk Jakarta. Hal ini juga disebabkan karena lahan perumahan yang semakin sempit dan mahal di Jakarta sehingga banyak orang, walaupun bekerja di Jakarta, tinggal di daerah Jabotabek yang mengharuskan mereka menjadi komuter.
DAMPAK :
Pasti ada dampak dari suatu hal yang berlebihan begitu pula overloadnya Jakarta. Kesesakan yang diakibatkan oleh berlebihannya pendduduk Jakarta mengakibatkan; Sifat Konsumtif, Kekumuhan kota, Kemacetan lalu lintas, Kriminalitas yang tinggi, Struktur kota yang berantakan, isu Jakarta tenggelam, Banjir, pelebaran kota dengan tata kota yang tidak baik, melonjaknya sector informal, terjadinya kemerosotan kota, dan pengembangan industry yang menghasilkan limbah.
Dalam hal perbaikan, pemerintah Jakarta memang mengambil langkah-langkah untuk membatasi urbanisasi. Pemerintah mengeluarkan peraturan yang membatasi masuknya migran ke kota, dengan hanya mereka yang telah dijamin pekerjaannya diijinkan untuk tinggal di kota, sementara petugas dari lembaga ketertiban umum kota sering melakukan serangan terhadap warga ilegal.
Semua upaya untuk mengekang tingkat kelahiran di kota itu akan menjadi tidak berarti jika kita tidak dapat membatasi urbanisasi. Untuk mengatasi masalah ini, Jakarta tidak bisa bekerja sendiri karena masih ada faktor yang mendorong urbanisasi dari berbagai daerah. Namun Semua masalah ini hanya bisa dipecahkan jika ada kemauan politik dari pemerintah pusat untuk menangani masalah mengurangi kesenjangan antara Jakarta dan provinsi-provinsi lainnya.
Salah satu penyebab maraknya tawuran di Jakarta selama ini adalah sangat padatnya penduduk yang bermukim di sekitar lokasi tawuran tersebut. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengaku mengalami kesulitan mengatasi masalah sosial ini.
Pemprov DKI sudah mencoba memindahkan warga dari permukiman padat ke permukiman tidak padat dengan tujuan meratakan jumlah penduduk. Tapi, kenyataannya, banyak penduduk yang tidak mau pindah dengan berbagai alasan. “Kalau dibuat rumah susun di daerah pinggiran, warga pada nggak mau pindah. Mau membendung pendatang juga tidak mungkin karena Jakarta kota terbuka,” ujar Gubernur DKI Fauzi Bowo kepada wartawan, Kamis (7/7).
Dikatakan Fauzi, jika melihat pertumbuhan penduduk dari tingkat kelahiran, Jakarta masih lebih rendah dibandingkan Bogor dan wilayah lain di luar DKI. Namun akibat pertumbuhan penduduk di wilayah sekitar Jakarta, sangat berpengaruh ke Jakarta.
Menurut gubernur, yang terjadi saat ini adalah warga dengan ekonomi mampu dan menengah ke atas justru berpindah ke luar Jakarta, seperti Depok, Bekasi dan Bogor, “Sedangkan yang masuk ke Jakarta adalah kalangan ekonomi ke bawah. Ini memunculkan ketidakseimbangan,” jelasnya.
Tidak hanya hukum untuk memindahkan penduduk agar lebih merata, bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan mudah. Pemprov DKI mengaku dilematis karena tidak bisa hanya melalui penegakan hukum semata, namun penegakan hukum harus juga disertai berbagai usaha yang komprehensif. “Program KB harus dijalankan. Juga program pemerintah pusat yang meningkatkan pembangunan di daerah, sehingga arus migrasi tidak deras,” jelas Fauzi.
Seperti diketahui, masalah penduduk yang sangat padat menjadi salah satu faktor terjadinya konflik di antara masyarakat. Seperti di Joharbaru (Jakarta Pusat) dan Menteng (Jakarta Pusat). Di Kelurahan Menteng, warga yang biasa terlibat tawuran adalah warga RW 01, 08, 09, dan 10. Warga Jalan Menteng Tenggulun dari empat RW tersebut berjumlah sekitar 9.100 jiwa dan lebih padat dibandingkan RW lainnya.
“Kebanyakan warga adalah pekerja informal, pedagang, buruh, dan lainnya, namun juga ada pekerja formal, PNS dan karyawan swasta,” ujar Lurah Menteng, Eko Witarso beberapa waktu lalu. Eko menjelaskan, pertemuan dengan warga sudah sering dilakukan, namun belum menyentuh hingga ke para pelaku utama tawuran ini. Padatnya penduduk juga tampak di Kecamatan Johar Baru, saat ini Johar Baru memiliki penduduk sebanyak 108.047 jiwa, di wilayah seluas 238.16 Ha, atau dapat diartikan 46.119 jiwa berada dalam satu kilometer persegi. Mereka tinggal di empat kelurahan, yaitu Kelurahan Johar Baru, Galur, Tanah Tinggi, dan Kampung Rawa.

Sumber:http://fransiskusasisiabdisetiadhi.blogspot.com/2011/12/permasalahan-penduduk-jakarta.html


 Upaya Mengatasi Permasalahn Penduduk Jakarta


Upaya yang telah di lakukan untuk mengatasi masalah-masalah kependudukan yaitu:
1.    Jumlah penduduk dan pertumbuhannya diatasi dengan program Keluarga Berencana (KB).
2.    Persebaran dan Kepadatan penduduk diatasi dengan:
a.    Program Transmigrasi
b.    Pembangunan lebih intensif di Kawasan Indonesia Timur.
3.    Tingkat kesehatan yang rendah diatasi dengan:
a.    Pembangunan fasilitas kesehatan seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
b.    Pelayanan kesehatan gratis bagi penduduk miskin
4.    Tingkat pendidikan yang rendah diatasi dengan:
a.   Penyediaan fasilitas pendidikan yang lebih lengkap dan merata di semua daerah di Indonesia.
b.   Penciptaan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja
c.   Peningkatan kualitas tenaga pengajar (guru dan dosen) di lembaga pendidikan milik pemerintah
d.   Penyediaan program pelatihan bagi para pengajar dan pencari kerja
e.   Mempelopori riset dan penemuan baru dalam bidang IPTEK di lembaga- lembaga pemerintah
5.    Tingkat  pendapatan yang rendah diatasi dengan:
a.  Penciptaan perangkat hukum yang menjamin tumbuh dan berkembang- nya usaha/investasi, baik PMDN ataupun PMA.
b. Optimalisasi peranan BUMN dalam kegiatan perekonomian, sehingga dapat lebih banyak menyerap tenaga kerja.
c.  Penyederhanaan birokrasi dalam   perizinan usaha. Pembangunan/menyediakan fasilitas umum (jalan, telepon) sehingga dapat mendorong kegiatan ekonomi.

Jumat, 01 November 2013

SUMATRA UTARA


                                                                SUMATRA UTARA

Sumatera Utara merupakan propinsi keempat terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Menurut hasil pencacahan lengkap Sensus Penduduk (SP) 1990 penduduk Sumatera Utara pada tanggal 31 Oktober 1990 (hari sensus) berjumlah 10,81 juta jiwa, dan pada tahun 2002, jumlah penduduk Sumatera Utara adalah seramai 11,85 juta jiwa. Kepadatan penduduk Sumatera Utara pada tahun 1990 adalah 143 jiwa per km² dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 165 jiwa per km², sedangkan kadar peningkatan pertumbuhan penduduk Sumatera Utara selama kurun waktu tahun 1990-2000 adalah 1,20 persen per tahun.
Kadar Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sumatera Utara setiap tahunnya tidak tetap. Pada tahun 2000 TPAK nang daerah iki sebesar 57,34 persen, tahun 2001 naik menjadi 57,70 persen, tahun 2002 naik lagi menjadi 69,45 persen.
Geografi
Propinsi Sumatera Utara terletak pada 1° - 4° Lintang Utara lan 98° - 100° Bujur Timur, Luas daratan propinsi Sumatera Utara 71.680 km².
Sumatra Utara pada dasarnya dapat dibagi atas:
Pesisir wetan kuwe wilayah nang njero propinsi sing paling pesat perkembangane karena persyaratan infrastruktur sing relatif lebih lengkap daripada wilayah liyane. Wilayah pesisir timur juga merupakan wilayah sing relatif padat konsentrasi penduduknya dibandingkan wilayah liyane.
Di daerah tengah propinsi berjajar Pegunungan Bukit Barisan. nang pegunungan iki ada beberapa dataran tinggi sing merupakan kantong-kantong konsentrasi penduduk. Tetapi jumlah hunian penduduk paling padat berada nang daerah Timur propinsi ini. Daerah nang sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir juga menjadi tempat tinggal penduduk sing menggantungkan hidupnya kepada danau ini.
Pesisir barat biasa dikenal sebagai daerah Tapanuli.
Batas wilayah
propinsi Aceh dan Selat Malaka
propinsi Riau, propinsi Sumatera Barat, lan Samudera Indonesia
propinsi Aceh dan Samudera Indonesia
Terdapat 419 pulau nang propisi Sumatera Utara. Pulau-pulau terluar adalah pulau Simuk (kepulauan Nias), dan pulau Berhala nang selat Sumatera (Malaka).
Kepulauan Nias terdiri sekang pulau Nias sebagai pulau utama dan pulau-pulau kecil liya nang sekitarnya. Kepulauan Nias terletak nang lepas pantai pesisir barat nang Samudera Hindia. Pusat pemerentahan terletak nang Gunung Sitoli.
Kepulauan Batu terdiri sekang 51 pulau dengan 4 pulau besar: Sibuasi, Pini, Tanahbala, Tanahmasa. Pusat pemerentahan nang Pulautelo nang pulau Sibuasi. Kepulauan Batu terletak nang tenggara kepulauan Nias.
Pulau-pulau liya nang Sumatera Utara: Imanna, Pasu, Bawa, Hamutaia, Batumakalele, Lego, Masa, Bau, Simaleh, Makole, Jake, dan Sigata, Wunga.
Di Sumatera Utara saat iki terdapat dua taman nasional, yakni Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Batang Gadis. Menurut Keputusan Menteri Kehutanan, Nomor 44 Tahun 2005, luas hutan nang Sumatera Utara saat iki 3.742.120 hektare (ha). sing terdiri sekang Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam seluas 477.070 ha, Hutan Lindung 1.297.330 ha, Hutan Produksi Terbatas 879.270 ha, Hutan Produksi Tetap 1.035.690 ha dan Hutan Produksi sing dapat dikonversi seluas 52.760 ha.
Namun angka iki sifatnya secara de jure saja. Sebab secara de facto, hutan sing ada tidak seluas itu lagi. Terjadi banyak kerusakan akibat perambahan dan pembalakan liar. Sejauh ini, sudah 206.000 ha lebih hutan nang Sumut telah mengalami perubahan fungsi. Telah berubah menjadi lahan perkebunan, transmigrasi. sekang luas tersebut, sebanyak 163.000 ha untuk areal perkebunan dan 42.900 ha untuk areal transmigrasi.
Sosial kemasyarakatan
Suku bangsa
Sumatera Utara merupakan propinsi multietnis dengan Batak, Nias, dan Melayu sebagai penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir timur Sumatera Utara, pada umumnya dihuni oleh orang-orang Melayu. Pantai barat sekang Barus hingga Natal, banyak bermukim orang Minangkabau. Wilayah tengah sekitar Danau Toba, banyak dihuni oleh Suku Batak sing sebagian besarnya beragama Kristen. Suku Nias berada nang kepulauan sebelah barat. Sejak dibukanya perkebunan tembakau nang Sumatera Timur, pemerentah kolonial Hindia Belanda banyak mendatangkan kuli kontrak sing dipekerjakan nang perkebunan. Pendatang tersebut kebanyakan berasal sekang etnis Jawa dan Tionghoa. Pusat penyebaran suku-suku nang Sumatra Utara, sebagai berikut :
  1. Suku Melayu Deli : Pesisir Timur, terutama nang kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Langkat
  2. Suku Batak Karo : Kabupaten Karo
  3. Suku Batak Toba : Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir
  4. Suku Batak Pesisir : Tapanuli Tengah, Kota Sibolga
  5. Suku Batak Mandailing/Angkola : Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Lawas, dan Mandailing Natal
  6. Suku Batak Simalungun : Kabupaten Simalungun
  7. Suku Batak Pakpak : Kabupaten Dairi dan Pakpak Barat
  8. Suku Nias : Pulau Nias
  9. Suku Minangkabau : Kota Medan, Pesisir barat
  10. Suku Aceh : Kota Medan
  11. Suku Jawa : Pesisir Timur & Barat
  12. Suku Tionghoa : Perkotaan pesisir Timur & Barat.
basa
Pada dasarnya, basa sing dipergunakan secara luas adalah basa Indonesia. Suku Melayu Deli mayoritas menuturkan basa Indonesia karena kedekatan basa Melayu dengan basa Indonesia. Pesisir timur seperi wilayah Serdang Bedagai, Pangkalan Dodek, Batubara, Asahan, dan Tanjung Balai, memakai basa Melayu Dialek "O" begitu juga nang Labuhan Batu dengan sedikit perbedaan ragam. nang kabupaten Langkat masih menggunakan basa Melayu Dialek "E" sing sering juga disebut basa Maya-maya. Masih banyak keturunan Jawa Kontrak (Jadel - Jawa Deli) sing menuturkan basa Jawa.
Di kawasan perkotaan, suku Tionghoa lazim menuturkan basa Hokkian selain basa Indonesia. nang pegunungan, suku Batak menuturkan basa Batak sing terbagi atas 4 logat (Silindung-Samosir-Humbang-Toba). basa Nias dituturkan nang Kepulauan Nias oleh suku Nias. Sedangkan orang-orang Pesisir Pantai Barat Sumut, seperti Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah serta Aceh Singkil dan Natal Madina menggunakan basa Pesisir.
Agama
Agama utama nang Sumatra Utara adalah:
  • Islam: terutama dipeluk oleh suku Melayu, Pesisir, Minangkabau,Jawa, Aceh, suku Batak Mandailing, sebagian Batak Karo, Simalungun dan Pakpak
  • Kristen (Protestan dan Katolik): terutama dipeluk oleh suku Batak Karo, Toba, Simalungun, Pakpak, Mandailing dan Nias
  • Hindu: terutama dipeluk oleh suku Tamil nang perkotaan
  • Buddha: terutama dipeluk oleh suku Peranakan nang perkotaan
  • Konghucu : terutama dipeluk oleh suku Peranakan nang perkotaan
  • Parmalim: dipeluk oleh sebagian suku Batak sing berpusat nang Huta Tinggi
  • Animisme: masih ada dipeluk oleh suku Batak, yaitu Pelebegu Parhabonaron dan kepercayaan sejenisnya
Pendidikan
Pada tahun 2005 jumlah anak sing putus sekolah nang Sumut mencapai 1.238.437 orang, sementara jumlah siswa miskin mencapai 8.452.054 orang.
Dari total APBD 2006 sing berjumlah Rp 2.204.084.729.000, untuk pendidikan sebesar Rp 139.744.257.000, termasuk dalam pos iki anggaran untuk bidang kebudayaan.
Jumlah total kelulusan siswa sing ikut Ujian Nasional pada tahun 2005 mencapai 87,65 persen atau 335.342 siswa sekang 382.587 siswa tingkat SMP/SMA/SMK sederajat peserta UN . Sedangkan 12,35 persen siswa sing tidak lulus itu berjumlah 47.245 siswa.
Kesehatan
  • Secara umum, angka penemuan kasus baru tuberculosis (TBC) nang Sumatra Utara mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 kasus TBC diperkirakan berkisar 160/100.000 penduduk. Jika jumlah penduduk Sumatra Utara tercatat 12 juta jiwa, maka penderita TBC nang daerah iki sebanyak 19.000.
  • Jumlah penderita HIV/AIDS nang Sumatera Utara hingga Oktober 2005 tercatat 301 orang, yakni 26 orang asing dan 276 warga negara Indonesia. Sementara jumlah korban sing HIV/AIDS sing meninggal dunia hingga Agustus 2005 berjumlah 34 orang.
Tenaga kerja
  • Angkatan Kerja. Pada tahun 2002 angkatan kerja nang Sumut mencapai 5.276.102 orang. Jumlah itu naik 4,72% sekang tahun sebelumnya. Kondisi angkatan kerja itu juga diikuti dengan naiknya orang sing mencari pekerjaan. Jumlah pencari kerja pada 2002 mencapai 355.467 orang. Mengalami kenaikan 57,82% sekang tahun sebelumnya.
  • Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Jumlah TPT nang Sumut naik sekang 4,47% pada 2001 menjadi 6,74% pada 2002. TPT tertinggi terjadi nang Kota Medan mencapai 13,28%, diikuti Kota Sibolga (11,71%), Kabupaten Langkat (11,06%), dan Kodya Tebing Tinggi (10,91%).
  • Angkatan Kerja. Penduduk sing tergolong angkatan kerja berjumlah 5,1 juta jiwa. Sekitar 34% berstatus sebagai majikan, bekerja sendiri (20%), dan pekerja keluarga (23%). Skala usaha tergambar pada komposisi sing didominasi oleh usaha kecil sekitar 99,8% dan hanya sekitar 0,2% sing tergolong usaha besar.
  • Pendidikan Pekerja. Tingkat pendidikan sebagian besar tenaga kerja. Pekerja sing berpendidikan tidak tamat sekolah dasar (SD) atau sampai tamat SD mencapai 48,96%. Lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) mencapai 23%. Sedangkan lulusan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) mencapai 24,08%. Sementara itu, lulusan perguruan tinggi hanya 3,95%.
Perekonomian
Energi
Sumatera Utara kaya akan sumber daya alam berupa gas alam nang daerah Tandam, Binjai dan minyak bumi nang Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat sing telah dieksplorasi sejak zaman Hindia Belanda.
Selain itu nang Kuala Tanjung, Kabupaten Asahan juga terdapat PT Inalum sing bergerak nang bidang penambangan bijih dan peleburan aluminium sing merupakan satu-satunya nang Asia Tenggara.
Sungai-sungai sing berhulu nang pegunungan sekitar Danau Toba juga merupakan sumber daya alam sing cukup berpotensi untuk dieksploitasi menjadi sumber daya pembangkit listrik tenaga air. PLTA Asahan sing merupakan PLTA terbesar nang Sumatra terdapat nang Kabupaten Toba Samosir.
Selain itu, nang kawasan pegunungan terdapat banyak sekali titik-titik panas geotermal sing sangat berpotensi dikembangkan sebagai sumber energi panas maupun uap sing selanjutnya dapat ditransformasikan menjadi energi listrik.
Pertanian dan perkebunan
propinsi iki tersohor karena luas perkebunannya, hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian propinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. BUMN Perkebunan sing arealnya terdapat nang Sumatera Utara, antara liya PT Perkebunan Nusantara II (PTPN II), PTPN III dan PTPN IV.
Selain itu Sumatera Utara juga tersohor karena luas perkebunannya. Hingga kini, perkebunan tetap menjadi primadona perekonomian propinsi. Perkebunan tersebut dikelola oleh perusahaan swasta maupun negara. Sumatera Utara menghasilkan karet, coklat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar nang Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhanbatu, dan Tapanuli Selatan.
  • Luas pertanian padi. Pada tahun 2005 luas areal panen tinggal 807.302 hektare, atau turun sekitar 16.906 hektare dibanding luas tahun 2004 sing mencapai 824.208 hektare. Produktivitas tanaman padi tahun 2005 sudah bisa ditingkatkan menjadi berkisar 43,49 kwintal perhektar sekang tahun 2004 sing masih 43,13 kwintal per hektare, dan tanaman padi ladang menjadi 26,26 kwintal sekang 24,73 kwintal per hektare. Tahun 2005, surplus beras nang Sumatera Utara mencapai 429 ton sekang sekitar 2.1.27 juta ton total produksi beras nang daerah ini.
  • Luas perkebunan karet. Tahun 2002 luas areal tanaman karet nang Sumut 489.491 hektare dengan produksi 443.743 ton. Sementara tahun 2005, luas areal karet menurun atau tinggal 477.000 hektare dengan produksi sing juga anjlok menjadi hanya 392.000 ton.
  • Irigasi. Luas irigasi teknis seluruhnya nang Sumatera Utara seluas 132.254 ha meliputi 174 Daerah Irigasi. Sebanyak 96.823 ha pada 7 Daerah Irigasi mengalami kerusakan sangat kritis.
  • Produk Pertanian. Sumatra Utara menghasilkan karet, cokelat, teh, kelapa sawit, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau. Perkebunan tersebut tersebar nang Deli Serdang, Langkat, Simalungun, Asahan, Labuhanbatu, dan Tapanuli Selatan.
Komoditas tersebut telah diekspor ke berbagai negara dan memberikan sumbangan devisa sing sangat besar bagi Indonesia. Selain komoditas perkebunan, Sumatra Utara juga dikenal sebagai penghasil komoditas holtikultura (sayur-mayur dan buah-buahan); misalnya Jeruk Medan, Jambu Deli, Sayur Kol, Tomat, Kentang, dan Wortel sing dihasilkan oleh Kabupaten Karo, Simalungun dan Tapanuli Utara. Produk holtikultura tersebut telah diekspor ke Malaysia dan Singapura.
Perbankan
Selain bank umum nasional, bank pemerentah serta bank internasional, saat iki nang Sumut terdapat 61 unit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan 7 Bank Perkreditan Rakyat Syariaf (BPRS) nang Sumatera Utara. Data sekang Bank Indonesia menunjukkan, Pada Januari 2006, Dana Pihak Ketiga (DPK) sing diserap BPR mencapai Rp 253.366.627.000 dan kredit mencapai Rp 260.152.445.000. Sedangkan aktiva (aset) menapai Rp 340.880.837.000.
Sarana dan prasarana
pemerentah propinsi (Pemprov) Sumatra Utara juga sudah membangun berbagai prasarana dan infrastruktur untuk memperlancar perdagangan baik antarkabupaten maupun antarpropinsi. Sektor swasta juga terlibat dengan mendirikan berbagai properti untuk perdagangan, perkantoran, hotel dan liya-lain. Tentu saja sektor liya, seperti koperasi, pertambangan dan energi, industri, pariwisata, pos dan telekomunikasi, transmigrasi, dan sektor sosial kemasyarakatan juga ikut dikembangkan. Untuk memudahkan koordinasi pembangunan, maka Sumatra Utara dibagi ke dalam empat wilayah pembangunan.
Pertambangan
Ada tiga perusahaan tambang terkemuka nang Sumatra Utara:
Transportasi
Di Sumatera Utara terdapat 2.098,05 kilometer jalan negara, sing tergolong mantap hanya 1.095,70 kilometer atau 52,22 persen dan 418,60 kilometer atau 19,95 persen dalam keadaan sedang, selebihnya dalam keadaan rusak. Sementara sekang 2.752,41 kilometer jalan propinsi, sing dalam keadaan mantap panjangnya 1.237,60 kilometer atau 44,96 persen, sementara sing dalam keadaan sedang 558,46 kilometer atau 20,29 persen. Halnya jalan rusak panjangnya 410,40 kilometer atau 14,91 persen dan sing rusak berat panjangnya 545,95 kilometer atau 19,84 persen.
Dari sisi kendaraan, terdapat lebih 1,38 juta kendaraan roda dua dan empat nang Sumatera Utara. sekang jumlah itu, sebanyak 873 ribu lebih berada nang Kota Medan.
Ekspor & impor
Kinerja ekspor Sumatera Utara cenderung meningkat sekang tahun ke tahun. Pada tahun 2004 tercatat perolehan devisa mencapai US$4,24 milyar atau naik 57,72% sekang tahun sebelumnya sekang sektor ini.
Ekspor kopi sekang Sumatera Utara mencapai rekor tertinggi 46.290 ton dengan negara tujuan ekspor utama Jepang selama lima tahun terakhir. Ekspor kopi Sumut juga tercatat sebagai 10 besar produk ekspor tertinggi dengan nilai US$3,25 juta atau 47.200,8 ton periode Januari hingga Oktober 2005.
Dari sektor garmen, ekspor garmen cenderung turun pada Januari 2006. Hasil industri khusus pakaian jadi turun 42,59 persen sekang US$ 1.066.124 pada tahun 2005, menjadi US$ 2.053 pada tahun 2006 pada bulan sing sama.
Kinerja ekspor impor beberapa hasil industri menunjukkan penurunan. Yakni furniture turun 22,83 persen sekang US$ 558.363 (2005) menjadi US$ 202.630 (2006), plywood turun 24,07 persen sekang US$ 19.771 menjadi US$ 8.237, misteric acid turun 27,89 persen yakni sekang US$ 115.362 menjadi US$ 291.201, stearic acid turun 27,04 persen sekang US$ 792.910 menjadi US$ 308.020, dan sabun noodles turun 26 persen sekang AS.689.025 menjadi US$ 248.053.
Kinerja ekspor impor hasil pertanian juga mengalami penurunan yakni minyak atsiri turun 18 persen sekang US$ 162.234 menjadi US$ 773.023, hasil laut/udang, minyak kelapa dan kopi robusta juga mengalami penurunan cukup drastis hingga mencapai 97 persen. Beberapa komoditi sing mengalami kenaikan (nilai nang atas US$ Juta) adalah biji kakao, hortikultura, kopi arabica, CPO, karet alam, hasil laut (non udang). Untuk hasil industri yakni moulding, ban kendaraan dan sarung tangan karet.