Senin, 11 November 2013

Permasalahan Penduduk Di Jakarta

Bicara mengenai permasalahan perkotaan di Indonesia, kita berpikir tidak bisa lepas dari Jakarta. Jakarta adalah contoh yang sangat pas untuk membahas permasalahan dalam kota. Khususnya masalah kepadatan penduduk. Beberapa waktu yang lalu banyak isu yang menyebutkan bahwa ada rencana pemindahan ibu kota Republik Indonesia. Kenapa? Karena Ibu kota yang sekarang dinilai tidak layak lagi untuk dijadikan sebagai ibu kota. Ada alasan yang begitu rumit untuk dijelaskan bahkan, aparat yang katanya pemimpin kota dan negeri ini pun kelimpungan ketika ditanyakan mengenai kota yang amat padat ini. Tidak hanya mengenai pemindahan kota Jakarta, tetapi yang lebih mengerikan dari pada itu adalah ada wacana yang disebutkan para ahli bahwa 2080 ada kemungkinan Jakarta akan tenggelam.
Menurut hasil sensus nasional terakhir, ibu kota dihuni oleh hampir 9,6 juta orang melebihi proyeksi penduduk sebesar 9,2 juta untuk tahun 2025. Populasi kota ini adalah 4 persen dari total penduduk negara, 237.600.000 orang.
Dengan angka-angka ini, kita dapat melihat bahwa populasi kota telah tumbuh 4,4 persen selama 10 tahun terakhir, naik dari 8,3 juta pada tahun 2000. Apa yang dikatakan angka-angka ini? Ibukota telah kelebihan penduduk.Pada tingkat ini, Jakarta memiliki kepadatan penduduk 14.476 orang per kilometer persegi. Sebagai akibatnya, para pembuat kebijakan kota perlu merevisi banyak target pembangunan kota ini, termasuk penciptaan lapangan kerja, ketahanan pangan, perumahan, kesehatan dan infrastruktur, sebagai peredam masalah pada saat kota sudah mengalami kepadatan penduduk yang sangat menghawatirkan.
PENYEBAB :
Jumlah penduduk ditentukan oleh : 1. Angka kelahiran 2. Angka kematian 3. Perpindahan penduduk, yang meliputi :a. Urbanisasi, b. Reurbanisasi, c. Emigrasi, d. Imigrasi, yaitu e. Remigrasi, f. Transmigrasi. Yang menjadi focus penyebab kepadatan penduduk Jakarta saat ini adalah adalah Urbanisasi. Dimana, fakta berbicara bahwa penduduk kota Jakarta mayoritas adalah para urban. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta 2010 mengatakan bahwa jumlah penduduk Jakarta bertambah sebanyak 134.234 jiwa per tahun. Jika tidak ada program dari pemerintah untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, maka pada 2020 Jakarta akan menjadi lautan manusia. Kenapa mereka berurbanisasi ke Jakarta?
Ada banyak faktor yang memicu urbanisasi misalnya; modernisasi teknologi, rakyat pedesaan selalu dibombardir dengan kehidupan serba wah yang ada di kota besar sehingga semakin mendorong mereka meninggalkan kampungnya. Pendidikan. Faktor pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap melunjaknya jumlah penduduk. Universitas terbaik di Indonesia baik negeri maupun swasta ada perkotaan termasuk di Jakarta. Lapangan Kerja. Jakarta sebagai kota besar dan berpenduduk banyak tentunya sangat menjanjikan untuk orang-orang kecil yang berniat untuk mencari sesuap nasi dikota ini mulai dari pedagang kaki lima (PKL), pedagang asongan, tukang ojek, tukang sngat menjanjikan untuk hidup semir sepatu, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, office boy, satpam, sopir, kondektur dll yang penting bisa bekerja tanpa mempunyai keahlian khusus.
Kota-kota besar terutama Jakarta adalah sasaran dari pencari kerja dari pedesaan dimana dengan adanya modernisasi teknologi, rakyat pedesaan selalu dibombardir dengan kehidupan serba wah yang ada di kota besar sehingga semakin mendorong mereka meninggalkan kampungnya. Secara statistik, pada tahun 1961 Jakarta berpenduduk 2,9 juta jiwa dan melonjak menjadi 4,55 juta jiwa 10 tahun kemudian. Pada tahun 1980 bertambah menjadi 6,50 juta jiwa dan melonjak lagi menjadi 8,22 juta jiwa pada tahun 1990. Yang menarik, dalam 10 tahun antara 1990-2000 lalu, penduduk Jakarta hanya bertambah 125.373 jiwa sehingga menjadi 8,38 juta jiwa. Data tahun 2007 menyebutkan Jakarta memiliki jumlah penduduk 8,6 juta jiwa, tetapi diperkirakan rata-rata penduduk yang pergi ke Jakarta di siang hari adalah 6 hingga 7 juta orang atau hampir mendekati jumlah total penduduk Jakarta. Hal ini juga disebabkan karena lahan perumahan yang semakin sempit dan mahal di Jakarta sehingga banyak orang, walaupun bekerja di Jakarta, tinggal di daerah Jabotabek yang mengharuskan mereka menjadi komuter.
DAMPAK :
Pasti ada dampak dari suatu hal yang berlebihan begitu pula overloadnya Jakarta. Kesesakan yang diakibatkan oleh berlebihannya pendduduk Jakarta mengakibatkan; Sifat Konsumtif, Kekumuhan kota, Kemacetan lalu lintas, Kriminalitas yang tinggi, Struktur kota yang berantakan, isu Jakarta tenggelam, Banjir, pelebaran kota dengan tata kota yang tidak baik, melonjaknya sector informal, terjadinya kemerosotan kota, dan pengembangan industry yang menghasilkan limbah.
Dalam hal perbaikan, pemerintah Jakarta memang mengambil langkah-langkah untuk membatasi urbanisasi. Pemerintah mengeluarkan peraturan yang membatasi masuknya migran ke kota, dengan hanya mereka yang telah dijamin pekerjaannya diijinkan untuk tinggal di kota, sementara petugas dari lembaga ketertiban umum kota sering melakukan serangan terhadap warga ilegal.
Semua upaya untuk mengekang tingkat kelahiran di kota itu akan menjadi tidak berarti jika kita tidak dapat membatasi urbanisasi. Untuk mengatasi masalah ini, Jakarta tidak bisa bekerja sendiri karena masih ada faktor yang mendorong urbanisasi dari berbagai daerah. Namun Semua masalah ini hanya bisa dipecahkan jika ada kemauan politik dari pemerintah pusat untuk menangani masalah mengurangi kesenjangan antara Jakarta dan provinsi-provinsi lainnya.
Salah satu penyebab maraknya tawuran di Jakarta selama ini adalah sangat padatnya penduduk yang bermukim di sekitar lokasi tawuran tersebut. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengaku mengalami kesulitan mengatasi masalah sosial ini.
Pemprov DKI sudah mencoba memindahkan warga dari permukiman padat ke permukiman tidak padat dengan tujuan meratakan jumlah penduduk. Tapi, kenyataannya, banyak penduduk yang tidak mau pindah dengan berbagai alasan. “Kalau dibuat rumah susun di daerah pinggiran, warga pada nggak mau pindah. Mau membendung pendatang juga tidak mungkin karena Jakarta kota terbuka,” ujar Gubernur DKI Fauzi Bowo kepada wartawan, Kamis (7/7).
Dikatakan Fauzi, jika melihat pertumbuhan penduduk dari tingkat kelahiran, Jakarta masih lebih rendah dibandingkan Bogor dan wilayah lain di luar DKI. Namun akibat pertumbuhan penduduk di wilayah sekitar Jakarta, sangat berpengaruh ke Jakarta.
Menurut gubernur, yang terjadi saat ini adalah warga dengan ekonomi mampu dan menengah ke atas justru berpindah ke luar Jakarta, seperti Depok, Bekasi dan Bogor, “Sedangkan yang masuk ke Jakarta adalah kalangan ekonomi ke bawah. Ini memunculkan ketidakseimbangan,” jelasnya.
Tidak hanya hukum untuk memindahkan penduduk agar lebih merata, bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan mudah. Pemprov DKI mengaku dilematis karena tidak bisa hanya melalui penegakan hukum semata, namun penegakan hukum harus juga disertai berbagai usaha yang komprehensif. “Program KB harus dijalankan. Juga program pemerintah pusat yang meningkatkan pembangunan di daerah, sehingga arus migrasi tidak deras,” jelas Fauzi.
Seperti diketahui, masalah penduduk yang sangat padat menjadi salah satu faktor terjadinya konflik di antara masyarakat. Seperti di Joharbaru (Jakarta Pusat) dan Menteng (Jakarta Pusat). Di Kelurahan Menteng, warga yang biasa terlibat tawuran adalah warga RW 01, 08, 09, dan 10. Warga Jalan Menteng Tenggulun dari empat RW tersebut berjumlah sekitar 9.100 jiwa dan lebih padat dibandingkan RW lainnya.
“Kebanyakan warga adalah pekerja informal, pedagang, buruh, dan lainnya, namun juga ada pekerja formal, PNS dan karyawan swasta,” ujar Lurah Menteng, Eko Witarso beberapa waktu lalu. Eko menjelaskan, pertemuan dengan warga sudah sering dilakukan, namun belum menyentuh hingga ke para pelaku utama tawuran ini. Padatnya penduduk juga tampak di Kecamatan Johar Baru, saat ini Johar Baru memiliki penduduk sebanyak 108.047 jiwa, di wilayah seluas 238.16 Ha, atau dapat diartikan 46.119 jiwa berada dalam satu kilometer persegi. Mereka tinggal di empat kelurahan, yaitu Kelurahan Johar Baru, Galur, Tanah Tinggi, dan Kampung Rawa.

Sumber:http://fransiskusasisiabdisetiadhi.blogspot.com/2011/12/permasalahan-penduduk-jakarta.html


 Upaya Mengatasi Permasalahn Penduduk Jakarta


Upaya yang telah di lakukan untuk mengatasi masalah-masalah kependudukan yaitu:
1.    Jumlah penduduk dan pertumbuhannya diatasi dengan program Keluarga Berencana (KB).
2.    Persebaran dan Kepadatan penduduk diatasi dengan:
a.    Program Transmigrasi
b.    Pembangunan lebih intensif di Kawasan Indonesia Timur.
3.    Tingkat kesehatan yang rendah diatasi dengan:
a.    Pembangunan fasilitas kesehatan seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
b.    Pelayanan kesehatan gratis bagi penduduk miskin
4.    Tingkat pendidikan yang rendah diatasi dengan:
a.   Penyediaan fasilitas pendidikan yang lebih lengkap dan merata di semua daerah di Indonesia.
b.   Penciptaan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja
c.   Peningkatan kualitas tenaga pengajar (guru dan dosen) di lembaga pendidikan milik pemerintah
d.   Penyediaan program pelatihan bagi para pengajar dan pencari kerja
e.   Mempelopori riset dan penemuan baru dalam bidang IPTEK di lembaga- lembaga pemerintah
5.    Tingkat  pendapatan yang rendah diatasi dengan:
a.  Penciptaan perangkat hukum yang menjamin tumbuh dan berkembang- nya usaha/investasi, baik PMDN ataupun PMA.
b. Optimalisasi peranan BUMN dalam kegiatan perekonomian, sehingga dapat lebih banyak menyerap tenaga kerja.
c.  Penyederhanaan birokrasi dalam   perizinan usaha. Pembangunan/menyediakan fasilitas umum (jalan, telepon) sehingga dapat mendorong kegiatan ekonomi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar